"Seandainya semua orang tahu tentang betapa istimewanya Ramadhan, maka semua orang akan mengharapkan bahwa setiap bulan adalah bulan Ramadhan."
Bulan Ramadhan adalah bulan yang istimewa bagi umat Muslim di seluruh dunia. Di bulan ini pahala dilipatgandakan serta pintu surga dibuka selebar-lebarnya. Tuhan memberikan keuntungan berlipat ganda dengan syarat dan ketentuan berlaku; menebar kebaikan sebanyak-banyaknya. Dari sisi lain, ekonomi misalnya, bulan Ramadhan juga memberikan lahan rezeki bagi banyak orang. Tidak sedikit orang beralih profesi dengan menjadi penjaja makanan berbuka dadakan lantaran melihat adanya peluang besar. Keistimewaan Bulan Ramadhan sebagai salah satu bulan kesayangan Tuhan kian spesial ketika terjadi di Indonesia. Sebagai negara yang terkenal dengan baby smoker country dan benteng terakhir industri rokok, para nonperokok ikut kecipratan berkahnya. Tidak hanya bagi nonperokok muslim saja, melainkan juga bagi yang nonmuslim. Melalui aturan-aturan-Nya, Tuhan seakan memberikan hadiah kepada para ciptaan-Nya yang tidak merokok selama kurang lebih 30 hari. Nyatanya, dalam menjalankan puasa, umat dilarang merokok. Itu dikarenakan merokok berarti memasukkan sesuatu melalui mulut ke perut dan itu adalah salah satu hal yang membatalkan puasa. Memang, tidak semua perokok muslim berpuasa dan tidak semua perokok itu beragama Islam. Namun setidaknya, bulan Ramadhan memberikan keberkahan bagi para nonperokok dengan secara tidak langsung mampu ‘mengurangi’ bahkan ‘menekan’ tingkat polusi asap rokok selama belasan jam dalam sehari khususnya di Indonesia. Bayangkan, jika imsak mulai pada pukul 04.30 dan adzan Maghrib berkumandang pada pukul 18.00, sudah berapa lama para perokok muslim yang berpuasa harus mengendalikan hawa nafsunya untuk merokok? Jawabannya 13,5 jam dalam 1 hari! Lalu kalikan jumlah 13,5 jam dengan 30 hari. Berapa hasilnya? 405 jam dari 720 jam yang ada! Itu artinya, selama 405 jam dalam 30 hari atau setara dengan 16 hari 21 jam, akan terjadi pengurangan polusi asap rokok di Indonesia! Mantap, kan? Asyiknya lagi nih, pada jam-jam aktivitas yang biasa dilakukan pada pagi dan siang hari membuat kita (para nonperokok) dapat dengan lebih leluasa dalam mendapatkan hak dalam mendapatkan udara bersih. Memang tidak ada jaminan seratus persen bahwa bulan Ramadhan berarti seratus persen tidak ada yang merokok. Tapi setidaknya, kita akan sangat jarang mendapati orang yang merokok di berbagai tempat sebagaimana di kesebelas bulan Hijriah yang lain, entah itu di dalam angkutan umum, di pangkalan ojek, di taman hingga di depan masjid atau musholla. Selama bulan puasa, Indonesia yang terkenal sebagai negara no day without smoke (tiada hari tanpa rokok) berganti status menjadi no maghrib, no smoke. Tunggu Maghrib dulu, baru yang perokok boleh merokok jika ingin patuh terhadap-Nya. Berkah bagi nonperokok, sebenarnya bulan Ramadhan juga berkah bagi perokok. Tuhan sangat sayang dengan kesehatan para perokok. Adanya Bulan Ramadhan justru mengistirahatkan paru-paru para perokok muslim selama belasan jam dari menghirup asap rokok. Saking sayangnya, melalui Ramadhan, Tuhan juga memberikan kesempatan bagi para umat-Nya yang perokok untuk latihan membiasakan diri tak merokok. Permasalahannya adalah, pahamkah para perokok akan keberkahan yang mereka dapatkan selama bulan Ramadhan? Selain itu, Ramadhan juga sejatinya merupakan cermin bahwa pada dasarnya tiap perokok bisa berhenti merokok. Merokok itu hanya persoalan nafsu dan niat. Jika pada hari biasa menahan diri untuk merokok saja sulit -bahkan ada yang beberapa menit sekali- maka pada bulan puasa, kenapa banyak sekali perokok muslim yang bisa mengendalikan hawa nafsunya? Tak tanggung, hawa nafsu untuk merokok dikendalikan selama kurang lebih 13 jam! Bukankah itu suatu hal yang harus diapresiasi? Sukses atau tidaknya seorang muslim dalam menjalani hari-hari di bulan Ramadhan tidak selamanya diukur dari seberapa rajin kita sholat tarawih, seberapa rajinnya sholat-sholat sunnah atau bahkan seberapa rajinnya membaca Quran, melainkan juga bisa ditakar dari statusnya dia, bagi yang perokok sejauh mana mereka mau berusaha untuk berhenti merokok selepas Ramadhan usai. Rasanya tidak salah jika ada perkataan yang intinya,
Oleh: Noval Kurniadi
